Home The News London Fashion Week, Feminin Futuristik
London Fashion Week, Feminin Futuristik PDF Print E-mail
Written by Indra1007   
Friday, 06 October 2006 21:27

London Fashion Week, Feminin Futuristik

Senin, 22 September 2008 - 07:47 wib

SETELAH New York, kini giliran perancang London unjuk aksi. Untuk musim semi 2009 mendatang, mereka memberikan alternatif baru selain floral dan palet cerah.

Nama-nama terkenal layaknya Christopher Kane, Henry Holland, dan Giles Deacon memberikan tampilan luar biasa yang telah menjadi jaminan di tiap pertunjukkan. Sementara label favorit kaum muda Inggris, PPQ, mempersembahkan koleksi inovatif dengan sentuhan futuristik. Duo desainer Amy Molyneaux dan Percy Parker mengombinasikan nuansa luar angkasa dengan busana era 40-an. Memancing senyuman dan tepuk tangan dari tamu undangan.

Peritel high street Topshop menghadirkan koleksi unik. Berbeda dengan koleksi regulernya, di catwalk London, Topshop menyuguhkan rancangan bergaya high end. Rangkaian busana oversized menjadi pilihan brand keluaran Acardia Group ini. Sebagai aksesori terdapat dasi kupu-kupu, headband, serta ikat pinggang mengkilap. Lainnya, Topshop menampilkan jumpsuit dan busana favorit semua wanita, little black dress.

Adapun Ossie Clarke, yang baru melakukan debut keduanya di London Fashion Week, mempersembahkan ragam koleksi feminin. Gaun-gaun berdraperi dengan hiasan lukisan tangan mendominasi catwalk. Membawa kembali nuansa hippies ala era 70-an.

Label yang diberi nama mengikuti desainer berpengaruh London, yang meninggal pada 1996 lalu itu, menggunakan material ekstrafeminin, seperti georgette dan sutra organza, dalam warna-warna baru. Sang desainer, Avsh Alom Gul, menyebut warna-warna tersebut sebagai verdant green, negligee nude, dan boudoir grey. Gul mengatakan, palet itu sangat cocok dikenakan muse-nya, Jourdan Dunn, model berkulit hitam yang tengah naik daun. Catwalk London juga menjadi tempat perhelatan koleksi-koleksi baru dari barisan desainer eksklusif, layaknya Vivienne Westwood, Julien Macdonald, Paul Smith, juga Luella Bartley.

Caroline Charles, yang telah malang-melintang di dunia mode selama 40 tahun, mempertunjukkan koleksi feminin dan sophisticated. Kendati mengusung gaya wanita secara kental, nuansa futuristik tetap terasa lewat penggunaan warna monokrom, terutama pada ragam blazer dan setelan resmi. Sementara, koleksi gaun feminin banyak memakai tone cerah, seperti fuschia, pink, dan palet lembut lainnya.

Charles mengatakan, dirinya berusaha menangkap esensi karakter wanita London dalam gaya berbusana yang lebih luas.

"Koleksi ini tidak ditujukan bagi komunitas tertentu, ataupun kota tertentu. Ini merupakan rangkuman gaya dari berbagai suasana, dan inilah yang menjadikan catwalk London hidup," sebut Charles.

Seperti halnya New York, pergelaran mode London pun dibayangi penurunan dan ketidakstabilan ekonomi. Tidak bisa dimungkiri, hal tersebut membuat para perancang gugup. Apalagi nilai poundsterling kembali menurun atas dolar. Membawanya ke level terendah sejak April 2006.

"Kami mendengar jumlah buyer Amerika yang datang tahun ini berkurang, tapi perancang masih memiliki harapan dari buyer lain. Pasar mode tidak terpukul keras dan kami yakin tingkat penjualan akan kembali normal," ungkap Assistant Fashion Editor Drapers Magazine, Laura Jackson, seperti dilansir Reuters.

Charles sendiri mengakui belum merasakan pengaruh penurunan ekonomi terhadap penjualan. Namun, dia mengatakan ekonomi yang tengah lesu bisa menjadi salah satu faktor penentu perolehan keuntungannya sepanjang 2009 mendatang. "Saya belum bisa mengatakan apa pun, tapi beberapa analis memprediksikan ekonomi Inggris akan mengalami resesi," paparnya.

Kendati demikian, transaksi bisnis tetap berjalan di areal pameran. Beberapa stan berhasil menarik perhatian ritel juga perusahaan penjualan online, terutama mereka yang menyediakan produk aksesori, seperti tas, sepatu, perhiasan, ataupun busana kasual. Buyer seolah memiliki strategi tersendiri untuk London dengan berburu aksesori.

Buyer lokal asal Hertfordshire, Louise Benisty dari Lulu & Fred mengatakan, lebih mudah menjual aksesori dan pernak-pernik ketimbang busana. "Saat ini aksesori lebih mudah dijual. Tas dan sepatu banyak diminta," ujar Benisty.

London Fashion Week
menampilkan total 52 peragaan busana selama enam hari, mulai 14-19 September. Di areal pameran, terdapat lebih dari 200 stan baik dari desainer maupun label. Pekan mode London musim semi dan musim panas 2009 ini menargetkan lebih dari 5000 pengunjung, baik itu buyer, media, maupun kalangan umum.
Last Updated ( Tuesday, 23 September 2008 06:15 )